Selasa, 26 Maret 2013

Cerpen


BOCAH TERMINAL
Hari mulai berganti gelap. Hujan pun masih enggan meninggalkan kota ini. Sesekali petir menyambar dengan kerasnya. Membuat suasana semakin mencekam. Beberapa kali aku melihat jam di handphone. Waktu semakin mendesakku untuk segera meninggalkan tempat ini.
Tak bisa diundur lagi. Bisa-bisa aku ketinggalan mobil jika terus seperti ini. “Kak pulangma’ nah”, sambil membuka payung biru di depan pintu kamarku.

Jumat, 14 Desember 2012

Tradisi Tanah Mandar



Berawal dari kebiasaan sang Raja
Menjanjikan sang puteri menunggangi kuda menari
Ketika  kutamatkan bacaan Ayat-ayat Suci-Mu
Arak-arakan menjadi bukti terakhir
            Lenggak-lenggok kepala kuda
            Pantun pun bersahut-sahutan
Tabuhan rebana menghiasi ruang dengar
Lautan manusia sepanjang mata memandang
Menyusuri jalan setapak
Mengobral senyum menjadi lumrah
Menjadi simbol keragaman budaya
Menunjukkan aura pandenna to Mandar

(sebagai naskah Lomba Tulis Nusantara)



Kutamatkan Al Quran di Tanah Mandar


(Naskah Lomba Tulis Nusantara)

Mentari perlahan-lahan menyapa dengan sejuta senyum penyemangat. Bau dingin masih menyelimuti tubuh yang lunglai di atas gundukan kapuk yang ditutupi kain lebar bermotif bunga berwarna biru itu. Merasa terganggu dengan suara ayam yang bersahut-sahutan. Aku mulai melepas sarung kotak-kotak yang beberapa tahun ini menemani di setiap malam nan sunyi. “Wahh terlambatma ini”, namun aku segera menuju kamar mandi. Mengambil usapan demi usapan air untuk menyucikan diri menghadap kiblat dan memenuhi kewajibanku.
Hehehe, saat itu usiaku masih dua belas tahun. Usia yang kunanti-nanti setelah sekian lama aku berjalan menyusuri lorong-lorong sekitar rumahku. Membawa sebuah sarung dan Al Quran yang telah kusam karena sudah seringkali aku buka. Kadang aku merasa malas untuk ke

Jumat, 07 Desember 2012

MELODI RINDU



Gitar ini mengingatkan kenangan dirimu dalam memori yang takkan pernah hilang. Ketika aku masih berdiri  disini dengan sejuta pengharapan, aku melihat gitar yang dengan gagahnya bersandar di dinding kamarku seakan berkata bahwa kamu ada. Petikan gitarmu yang selalu menghantuiku di setiap

Rabu, 28 November 2012

Hampa


Nur Ulfah Dwiyanti Obed
20 Agustus 2008



Butiran hujan membasahi bumi
Dingin seakan menemani
Jiwa yang sunyi dan sepi
Dilanda keraguan yang berlebih

Hatiku bagai bayangan
Tertutup oleh kabut hitam
Butuh mentari untuk meneranginya
Akankah mentari itu ada?

Otak lelah
Lelah meratapi semuanya
Yang kubutuhkan hanyalah waktu

Nafasku sesak
Ragaku terombang-ambing
Ditengah lautan luas
Tak ada tepi yang kulihat
Mungkinkah aku akan hanyut di dalamnya???



Sabtu, 17 November 2012

KAU, AKU DAN DIA



Nur Ulfah Dwiyanti Obed
10 November 2012



Hari-hari terlewati begitu saja tanpa mengharap dan berharap sesosok insan kan hadir mewarnai kehidupan ini lagi.
Dia pengisi hari-hariqu masa lalu.
Dia yang menjadi teman baik dan teman berimaji

MASIH BERSEJADAH PANJANG


Nur Ulfah Dwiyanti Obed
15 november 2012   


Kumengais sisa embun di pagi hari
Namun mentari seakan menghalangku
Kuberjalan kembali mengikuti sujud demi sujudku
Terasa nyaman